Bismillahirrahmanirrahiim
๐ง๐ง๐ง
Emm jujur, pada bagian pembahasan akhir di episode 4 ini cukup membuatku malu. Tertampar. Boleh dibaca resumenya sampai akhir ya. Semoga jadi ikut tersadarkan juga.
Episode 4 ini seolah jadi pembuka ke materi pembahasan tentang Palestina. Disini Ustadz Edgar mengawali dengan menceritakan hikmah serta pembelajaran yang didapat ketika menonton film The Guardian of Galaxy.
Inti yang dibahas pada kajian episode ini adalah seputar urgensi kerja sama tim untuk jadi pasukan yang hebat dalam merawat bumi dan menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan nilai-nilai kebenaran. Setelah itu masuklah ke pembahasan mengenai Palestina.
Berjamaah dan saling melengkapi.
Dalam film The Guardian of Galaxy ada banyak banget tokoh yang dimana mereka itu punya karakter, peran, serta kelebihannya masing-masing. Karakteristik yang beragam tersebut seolah menjadi kunci kekuatan mereka untuk melaksanakan misi menjaga keseimbangan galaksi karena kelebihan yang dimiliki oleh masing-masingnya digunakan untuk saling melengkapi. Mereka bersatu dengan unsur-unsur yang berbeda.
Tapi itu kan cuma kisah di film ya. Di kehidupan nyata, the (real) guardian of galaxy itu emang beneran ada kah?
Jawabannya: ADA.
Kita bisa tengok ke kisah perjuangan Rasulullah ๏ทบ dan para sahabat pada masa itu. Allah takdirkan mereka untuk menjadi orang-orang yang menjaga dunia ini dari kebatilan. Mereka tegakkan dakwah Islam dan sekaligus menjaga keseimbangan dunia ini.
Para sahabat yang ikut berjuang bersama Rasulullah adalah manusia-manusia hebat pilihan Allah yang memiliki kelebihan dan ciri khas yang beragam. Beberapa contohnya, ada Khalid bin Walid yang ahli di bidang militer, Abu Hurairah sang spesialis penghafal hadist, Amr bin Ash yang begitu pandai memengaruhi orang lain dan mengobarkan semangat lewat ucapannya, Umar bin Khattab sang pakar dalam ranah politik & pemerintahan, Ibunda Khadijah sang support system juga yang selalu bantu back up urusan dakwah Rasulullah, serta Usman bin Affan yang selalu support dengan hartanya yang memang sangat sulit sekali untuk habis.
Rasulullah dan para sahabat dapat menjadi tim yang istimewa karena antar satu sama lain saling melengkapi dengan potensinya masing-masing.
"Kalau ingin berjalan cepat, maka berjalanlah sendiri. Kalau ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama-sama"
"Pertolongan Allah itu akan bersama dengan orang-orang yang berjamaah".
Merekalah the guardian of galaxy yang sesungguhnya.
Lalu ada muncul pertanyaan,
"Oke, itu kan di zaman Rasulullah ya. Sementara sekarang udah lebih dari 1400 tahun berlalu. Nah, di zaman kita sekarang, emangnya masih ada ya orang-orang yang layak disebut the guardian of galaxy? Kalau ada, lantas siapakah orang itu?"
Jawabannya masih sama kayak pertanyaan sebelumnya: ADA DONG. Hehe. Siapa? Mari kita simak dulu sebuah hadist.
"Akan senantiasa ada sekelompok kecil dari umatku, kelompok yang selalu menolong kebenaran atas musuh mereka. Orang-orang yang menyelisihi mereka tidak akan membuat mereka goyah kecuali orang-orang yang tertimpa al-Lawa' (cobaan) sampai datang kepada mereka janji Allah Azza wa Jalla. Mereka bertanya, wahai Rasulullah dimanakah mereka? Beliau menjawab: Baitul Maqdis dan sisi Baitul Maqdis" [HR. Ahmad]
See? Tau kan apa yang sedang terjadi di Palestina?
Di setiap zamannya, the guardian of galaxy alias orang-orang yang memperjuangkan kebenaran untuk menjaga bumi itu beneran ada, dan akan selalu ada di setiap zamannya.
Ok, lalu, mungkin ada yang masih salfok sama hadis di atas. Kenapa Bandung? Eh wkwk
Kenapa Palestina? Kenapa harus Palestina? Atauu, melihat situasi saat ini, pertanyaan lebih detailnya kayak gini:
"Kenapa sih kita harus membela Palestina? Kenapa kita perlu memperjuangkan Al-Aqsha? Apa yang membuat orang-orang yang berjuang di Palestina itu terasa spesial?"
Baca surat Al-Isra ayat 1 deh.
"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya" [Al-Isra/17:1]
Tanah Palestina itu sangat dipenuhi dengan keberkahan. Itulah mengapa orang-orang yang berjuang disana dan juga orang-orang yang turut membela Palestina bisa terasa spesial. Tidakkah kita ingin ikut kecipratan berkahnya juga dengan mengerahkan segala bentuk kontribusi yang kita bisa upayakan? (Ini sebetulnya pertanyaan untuk nyindir diri sendiri๐ญ Udah lama gak turut serta menyuarakan berita tentang Palestina. Ya walaupun dengan alasan karena sudah cukup lama aku memutuskan untuk tidak aktif bersosial media dahulu untuk beberapa waktu. Tapi tetep aja jadi merasa bersalah๐ญ *Curcol).
Al-Aqsha itu amanah ummat. Bukan hanya milik rakyat Palestina aja, tapi milik umat Islam. Maka ini jadi tanggung jawab kita juga untuk menjaganya.
Ok next..
Aku mau sedikit sharing aja sih.
Aku tuh udah sering denger kabar tentang Palestina sejak aku duduk di bangku sekolah dasar. Tapi itu cuma sekelibat aja. Saat itu pernah baca beberapa artikel yang isinya tentang penindasan yang diterima warga Palestina oleh Israel, dan itu keji banget sih. Sampai waktu itu aku cukup sering dibuat nangis oleh berita semacam itu. Sejak saat itu hingga bertahun-tahun ke depan, yang ada di benakku dan yang aku rasakan terhadap rakyat Palestina itu hanyalah perasaan iba. Aku turut merasa ada di pihak Palestina, merasa khawatir dan mendo'akan kebaikan untuk saudara muslim di sana, tapi tetap saja selama bertahun-tahun lamanya yang ada di pikiranku hanya sebatas, "Ih kasihan ya mereka orang lemah ditindas dan dijajah oleh Israel".
Dibunuh, kelaparan, c*cat, kehilangan orang tersayang, dan hal-hal lain yang membuatku hanya terfokus pada perasaan kasihan yang berlebihan.
Hingga sampailah pada kejadian di 7 Oktober 2023 lalu. Dari sana, Allah betul-betul arahkan fokus dan cara pandangku. Aku mulai lebih banyak fokus belajar dan memahami langkah perjuangan para pejuang disana.
Dulu, ketika fokusnya hanya terhadap dampak yang ditimbulkan dari kekejaman zionis, maka itu bakalan menimbulkan rasa iba yang berlebihan. Efeknya bisa jadi stres sendiri karena kepikiran, jugaa pikiran dan hati tuh malah didominasi oleh perasaan takut.
Sekarang, ketika fokusnya ke perjuangan dan keimanan rakyat Palestina, maka perasaan yang muncul pun akan berbeda. Kita bakalan jadi ikut terciprat kobaran semangat para pejuang di sana. Rasa optimisnya muncul, dan jadinya pengen terus belajar dan nambah informasi tentang tanah Syam itu. Perasaan kasihan tentunya masih ada, karena.. siapa sih yang tega liat manusia sebanyak itu ditindas. Tapiii, satu hal yang menarik adalah, ketika semakin mendalami tentang Palestina, kematian, dan mengulik sirah nabawi, rasanya aku malah lebih mengasihani diri sendiri. Sungguh mereka itu mengalami segala macam bentuk penindasan karena benar-benar teguh memperjuangkan tanah yang Allah berkahi. Mereka syahid, sedangkan aku disini.. belum tau kelak bagaimana kondisi kematianku.
Kata Ustadz, "Fokus ke para pejuang disana yang benar-benar membuka mata dunia, bahwa ternyata sebuah wilayah yang gak lebih besar dari DKI Jakarta bernama Gaza, mereka diblokade selama belasan tahun, dijajah selama 70 tahun lebih, kemudian suatu hari pada tgl 7 oktober 2023, mereka memutuskan untuk menghadapi para penjajah yang tentunya mereka punya semuanya, dan mereka dibantu sama Amerika yang merupakan kekuatan adidaya yang ada di dunia sekarang. Tapi sampai hari ini, justru Gaza mengatakan kepada kita, bahwa yang menang adalah pejuang" ๐๐ฅ
Maka dari itu, kalau kita merasa umat ini gak punya superhero, maka itu salah besyarr. Umat yang sedang lemah ini memiliki para pejuang dan mereka ada di Palestina. Para pejuang yang dengan sungguh-sungguh menjadi pembela kebenaran, para pejuang yang tetap setia mengorban jiwa raganya untuk melindungi Al-Aqsha tercinta.
Kata mereka, "Kalau memang tidak ada yang mau menjaga masjid Al-Aqsha, maka kami yang akan tetap menjaga masjid ini. Kami bisa saja pergi, kami bisa saja pindah ke tempat lain, namun debu di masjid Al-Aqsha itu lebih mahal dari darah dan jiwa kami. Dan itu yang membuat kami bertahan". Allahu Akbar!๐ญ๐ญ๐
"Maka dari itu mari do'akan. Karena do'a kita adalah senjata. Perhatian kita itu menguatkan mereka, dan ketika kita memilih untuk menolak lupa, kita sedang ada dalam baris yang sama dengan mereka".
"Kenapa the real guardian of galaxy itu kok pusatnya di Palestina?"
"Kenapa sih tanah Palestina itu disebut tanah yang diberkahi?"
"Apa hikmah dan apa rahasia kenapa Al-Aqsha secara khusus dan negeri palestina secara umum dan bumi syam secara general itu disebut sebagai tanah yang diberkahi?"
Ini jawabannya aku kutip plek ketiplek dari jawaban Ustadz Edgar dan tokoh lain ya. Enak dibaca dan mudah dicerna soalnya. Gini,
"Salah satu hikmahnya adalah karena bumi itu berisi orang-orang yang benar-benar dekat dengan kesyahidan. Tanahnya berkah karena memang disitu banyak sekali darah syuhada yang gugur di sana".
Banyak banget para sahabat yang pengen dimakamkan di Palestina. Kata Umar bin Khattab, "sebaik-baik tempat tinggal adalah Baitul Maqdis. Orang-orang yang tinggal di situ seperti pejuang di jalan Allah". Kenapa? Karena memang dari dulu sampai hari ini, Palestina itu benar-benar diperebutkan oleh banyak kekuatan. Sehingga orang yang di sana, potensinya untuk berjuang, buat jadi mujahid, buat syahid di jalan Allah itu sangat tinggi.
Itu salah satu yang membuat tanah itu menjadi tanah yang diberkahi. Maka the real guardian of galaxy itu episentrum pusatnya ada di Palestina. Meskipun banyak negeri muslim yang berjuang seperti Palestina, tapi Al-Aqsha itu punya daya tarik tersendiri, magnetnya tuh spesial.
Syeikh Mahmud Shiyam, "Al-Aqsha memang sudah bukan kiblat shalat kita lagi. Namun Al-Aqsha tetap menjadi kiblat jihad dan perjuangan kita".
"Apakah benar bahwa dunia ini bakal hancur kalau Islam ngga ada?"
Islam itu ideal guys. Di dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 143, Allah berfirman, "dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) sebagi umat pertengahan (ummatan wasathan)". Umat Islam ini Allah sudah Allah rancang sedemikian rupa sebagai umat yang bisa menjaga keseimbangan di muka bumi baik dalam hal beragama maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Balance, gak terlalu ekstrim ke kanan, atau ke kiri. Syariat Islam itu udah bener-bener pas dalam mengatur segala aktivitas kita dari bangun tidur sampai tidur lagi. Jadi bisa kebayang kan bagaimana jadinya dunia tanpa Islam?
"Bisa gak kita ikut jadi the real guardian of galaxy?"
BISA.
Gimana caranya kita ikut jadi bagian dari the real guardian of galaxy? Kita kan ada jauh dari Al-Aqsha.
Caranya adalah dengan: MENOLAK LUPA.
Terdengar sangat sederhana, tapi 2 kata ini bisa menghantarkan kita ke banyak gerakan atau tindakan untuk menjaga keseimbangan dunia dan untuk turut memperjuangkan Palestina.
Dan satu lagi..
Terdengar sederhana dan ketika membayangkan sekilas mungkin batin kita nyeletuk, "Ohh, ahh gampang". Tapi percaya deh, gak semua orang bisa teguh pendirian melaksanakan itu.
Al-Aqsha itu amanah umat. Al-Aqsha punya siapa? Al-Aqsha bukan hanya milik Palestina, tapi milik Islam. Jadi kita pun memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan, membebaskan masjid Al-Aqsha.Nah, gimana caranya?
Hari ini kita jangan sampai jadi orang yang lupa atas apa yang terjadi pada saudara kita di Gaza. MENOLAK LUPA, adalah satu hal yang membuat kita bisa terus membersamai perjuangan teman-teman disana. Karena tau gak sih, orang-orang Israel itu tau kalo umat ini adalah umat yang mudah lupa. Umat ini pada kenyataannya lemah. Bukan hanya sekedar lemah fisik dan finansial, tapi lemah ingatan. Gampang lupa. Dan ketika kita memutuskan untuk melupakan apa yang terjadi di Palestina, berarti kita kalah. Gimana kita mau ikut andil, kalau buat inget aja gak iso? Maka simple, tapi gak semua muslim bisa melakukannya: "MENOLAK LUPA"
"Tetap share video/informasi tentang apa yang terjadi di sana, seakan-akan kau tinggallah satu-satunya orang yang peduli. Tetaplah peduli, sebab, kalau bukan engkau, jangan-jangan tak ada lagi" ๐ญ๐ฐ

Komentar
Posting Komentar